Barito Kuala — Menjelang Hari Jadi Kabupaten Barito Kuala, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Batola kembali meramaikan suasana, bukan dengan kembang api, tapi dengan kritik tajam yang menyengat. Bagi mereka, pemerintah daerah tampak jauh lebih lihai menyiapkan panggung perayaan daripada menyiapkan pembangunan yang benar-benar dibutuhkan rakyat.
Budaya lokal perlahan memudar, wisata terbengkalai, jalan berlubang seperti puzzle yang belum selesai, penerangan jalan minim bak kabupaten tanpa malam, dan kualitas pendidikan yang masih tersendat. Semua itu menurut PMII berbanding terbalik dengan semangat pemerintah yang begitu berapi-api saat mendekati seremonial tahunan.
Wakil I Bidang Hukum dan Advokasi PMII Batola, Pinky Manarul Alam, menyampaikan sindiran keras yang sulit untuk tidak diingat.
“Peringatan hari jadi Batola selalu terang benderang—sayangnya lampu jalan di desa-desa tidak ikut diterangi. Panggung acara megah, tapi jalan menuju sekolah saja kayak arena off-road. Ini perayaan atau ironi?” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah terkesan hanya fokus pada acara seremonial yang meriah, sementara kebutuhan dasar masyarakat malah dibiarkan menunggu nasib.
“Budaya makin meredup, pariwisata dibiarkan rontok, penerangan minim, pendidikan belum maksimal. Kita ini mau jadi kabupaten modern atau kabupaten yang hidup di balik dekor panggung semata?” tambahnya.
Pinky Manarul Alam mempertegas kritik tersebut dengan nada sinis yang tidak bisa diabaikan.
“Kalau urusan seremonial, pemerintah kita juaranya. Tapi kalau soal jalan, lampu, dan pendidikan? Entahlah. Seolah-olah kebutuhan masyarakat itu hanya penting ketika kamera menyala,” katanya.
Manarul menilai, banyaknya anggaran yang seharusnya dapat menyentuh kebutuhan publik justru tidak terasa manfaatnya di lapangan.
“Anggaran besar, program kecil dampaknya. Masyarakat butuh pembangunan, bukan acara yang hanya meramaikan satu hari lalu hilang tanpa jejak,” tegasnya.
PMII menekankan bahwa mereka akan terus mengawal pemerintah agar pembangunan tidak hanya indah di baliho, tetapi nyata di lapangan, nyata di jalan, di sekolah, dan di rumah-rumah warga yang masih gelap pada malam hari.